Dunia vs Akhirat, apakah keduanya sama pentingnya (harus imbang)
*أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ*
*بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ*
*"Dunia vs Akhirat,* _apakah keduanya sama pentingnya (harus imbang) ??!"_
#abc#
Suatu ketika si A akan terbang dari Bandung ke Surabaya dalam rangka perjalanan dinas dari perusahaannya untuk mengikuti sebuah seminar _Digital Marketing._ Jadi bukan dalam rangka ke _ondangan_ hajatan nikahan putera RI-1 yaa karena hajatannya bukan di Surabaya. Si A _take off_ dari Husein jam 6 pagi dan _landing_ di juanda 8 pagi. Sedangkan acara seminar jam dari 10 pagi sampai jam 3 sore.
Sampai di lokasi seminar ada jeda waktu sebelum acara dimulai sekitar 11 menitan dan dipakai si A untuk ngopi di _foodcourt_ deket ruang seminar. Nanti setelah seminar beres si A akan langsung ke Juanda lagi ngejar penerbangan jam 5 sore.
Dari cerita diatas tampak bahwasanya hanya ada sedikit waktu buat si A untuk _mengopi_ yaitu sesaat sebelum seminar dimulai.
_"Apa jadinya kalo si A ngopinya lama banget (misal 2 jam) karena saat ngopi ketemu temen lamanya sehingga asyik ngobrol ngidul ngalor ??"_
Atau
_"Apa jadinya kalo setelah sampai Surabaya si A jalan-jalan dulu keliling kota mpe sore ?"_
Tentu jawabnya _"Agenda seminar si A akan kacau karena dia telat bahkan ga bisa ikut seminar."_ Tujuan si A ke Surabaya adalah _acara dinas_ dari kantornya, bukan _acara travelling_ jadi sudah seharusnya si A fokus ke seminar. Ada waktu 6 jam untuk ikut seminar dan beberapa menit untuk ngopi. Jadi bukan 3 jam seminar dan 3 jam ngopi/jalan-jalan..
_Secuil_ ilustrasi sederhana diatas insyaa Allah bisa kita _analogikan_ untuk apa kita ada didunia ini. Dalam *QS Adz Dzariyat ayat 56* disebutkan bahwa :
*وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ*
_*“Aku tidaklah ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah hanya kepada-Ku.“*_
Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menciptakan kita semua sudah _mengintruksikan_ bahwasanya misi kita dikirim ke dunia ini hanya untuk beribadah kepadaNYA. Dengan demikian apapun aktivitas kita didunia harus bernilai ibadah, bukan ingkar ibadah. Ingkar ibadah maksudnya melakukan hal-hal yang dilarang syariat misalnya _meriba, menjudi, menyogok, menipu, memiras dll._ Dan yang namanya ibadah tentunya lebih mengutamakan kehidupan masa depan kita yaitu _kehidupan akhirat._
Kemudian dalam *QS Al Qasas 77* disebutkan bahwa _*"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi...."*_ Terlihat bahwa untuk kehidupan akhirat harus *"dicari"* sedangkan untuk kehidupan dunia cukup *"janganlah kamu melupakan"* bukan "carilah." _Kalau dalam analogi ilustrasi diatas ibarat tujuan agenda si A ke surabaya adalah untuk ikut seminar, sedangkan ngopi hanya untuk mengisi sedikit waktu sisa._
Selain itu dalam *QS Al Baqarah ayat 201* yang biasa disebut juga sebagai _"doa sapu jagat”_ menjelaskan bahwa :
*رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ*
_*“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari siksa neraka“.*_
Dari ayat ini jelas terlihat bahwa ada satu doa untuk kehidupan dunia _*(Berilah kami kebaikan di dunia)*_ dan dua doa untuk kehidupan akhirat _*(kebaikan di akhirat dan peliharalah dari siksa neraka)*._ Dengan demikian bisa disimpulkan kalau kehidupan di akhirat lebih penting dari kehidupan di dunia. Kalau kehidupan dunia dan akhirat sama-sama pentingnya _(imbang)_, tentunya dalam doanya pun juga akan sama porsinya.
Trus gimana dengan hadist yang mengatakan bahwa _*"Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok"* ??!_
Dari riwayat ini terlihat bahwa seolah-olah kehidupan dunia dan kehidupan akhirat seimbang porsinya yaitu sama-sama _"dikejar"._ Dari beberapa litetatur yang sy baca menunjukkan ternyata riwayat/dalil diatas bukan perkataan Rasulullah. Dengan kata lain hadist tersebut lemah atau bisa disebut sebagai hadist palsu. Untuk kalimat _"Beramalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok"_ insyaa Allah sudah tepat, tetapi untuk kalimat _"Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya"_ tentunya kurang tepat. Ketika seseorang bekerja karena seolah akan hidup selamanya bisa berakibat dia jadi melalaikan kehidupan akhirat karena sibuk mengurusi atau mengejar dunia.
*Semoga Allah Merahmati dan Melindungi kita semua sehingga kita bisa selalu menjaga* "porsi perjuangan" *untuk bekal kehidupan akhirat lebih dari* "porsi perjuangan" *untuk bekal kehidupan dunia.*

Posting Komentar untuk "Dunia vs Akhirat, apakah keduanya sama pentingnya (harus imbang)"